Langsung ke konten utama

Puisi

Menjamu Indah

Kusuguhi dia buah-buah segar..
yang langsung dipetik dari pohonnya
Ada empat macam banyaknya,

manis,asam,pahit, dan kombinasi dari ketiganya
Kadang aku beri dia manisan-manisan mungil
Kujamu dengan sebotol wine terbaik, aku tau itu favoritmu..nikmat dunia orang bilang
Aku menjamunya bukan agar dia menjamuku seperti itu juga atau supaya dia terus datang keistanaku
Aku hanya berusaha menjamu indah dengan semua kemampuanku

Selamat Menikmati..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL (Definisi, Ruang Lingkup, Titik Taut)

MAKALAH HUKUM PERDATA INTERNASIONAL Disusun Oleh: Elisabeth Sesaria Ilka Oktalila NIM : 201341004 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA KARYA MALANG 2015 BAB I PENDAHULUAN Makalah ini akan membahas mengenai Hukum Perdata Internasional (HPI) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembahasannya. Diantaranya adalah definisi, sumber-sumber, titik pertalian Hukum Perdata Internasional. Pada hakekatnya setiap negara yang berdaulat, memiliki hukum atau aturan yang kokoh dan mengikat pada seluruh perangkat yang ada didalamnya. Seperti pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki Hukum Positif untuk mengatur warga negarnya. Salah satu hukum positif yang ada di Indonesia adalah Hukum Perdata Internasional yang nantinya akan dibahas lebih detail. BAB II PEBAHASAN 2.1 Defenisi Hukum Perdata Internasional Beberapa pengertian Hukum Perdata Internasional menurut para ahli hukum : - Van Brakel :...

Puisi Untuk Mama (Ulang Tahun)

Untuk Mama Pelangi hatiku Membuatku merasa tenang saat melihatnya Warna warnimu hiasi nafasku Warna yang memberi banyak makna Sejak kau timang sampai saat ini yang aku tahu pelangi tetaplah 7 warna 7 warna yang selalu kau torehkan di langkahku Ya.. pesonamu tak akan pernah habis bu.. Kerutan di wajahmu.. Jadi juru ingatku Sudah saatnya kau merebahkan diri menyaksikan pohonmu yang mulai berbuah Uban yang semakin menguasai mahkotamu memberimu banyak kuasa kebajikan untukku Tulang-tulangmu sudah mulai keropos dan aku siap menjadi tongkatmu Ah.. apa pun itu tetap tak mengurangi pesonamu, senyum masakan nasihat omelan doa pelukan perhatian Selamat Ulang Tahun mama.. (Veronica Sutarsih, 11Jun1971)

Kembali

Lalu aku berjalan lurus Kuyakini tak ada yang mendorong Hanya aku dan aku Tampak bayangan diriku Yang kuyakini itu hanyalah khayalan Sangat kusut dan kaku Saatnya menyeka tubuh Setelah sekian lama hanya berjalan Basahlah pipiku Perjalanan sudah jauh Menghapus ingatan tentang tujuan Kembali, haruskahku?